SEJUTA ANCAMAN DIBALIK GIZI BERLEBIH
PADA ANAK
Aduh lucunya! Menggemaskan!! Merupakan kata-kata yang sering kita dengar ketika
melihat bayi yang memiliki tubuh tambun bin gendut.
Itulah mindset yang masih terbentuk di benak
masyarakat terutama para ibu.
Ukuran
berat badan bayi memang masih dijadikan tolak ukur anak tumbuh lebih sehat. Sungguh
ironis memang. Padahal, faktor berat badan hanyalah satu dari faktor-faktor
lainnya yang menentukan kesehatan anak secara keseluruhan. Masih banyak faktor
lain yang bisa diukur seperti keseimbangan antara perkembangan motorik, bahasa,
kognitif, emosional, dan sosial yang sesuai dengan usia anak. Disisi lain, anak
yang terlalu gemuk berarti memiliki kelebihan lemak yang nantinya bisa menjadi
bumerang bagi kesehatannya di masa depan.
Obesitas atau kegemukan
diartikan sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Secara
klinis obesitas dapat secara mudah dikenali karena
mempunyai tanda dan gejala yang khas antara lain wajah membulat, pipi tembem,
dagu rangkap, leher relatif pendek, dada yang menggembung dengan payudara yang
membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit dan dinding perut
berlipat-lipat serta kedua tungkai umumnya berbentuk X dengan kedua pangkal
paha bagian dalam saling menempel dan menyebabkan lecet.
Pada tahun 1998, WHO
menyatakan, obesitas sudah dalam tingkat epidemik, dan apabila dibiarkan dapat menjadi obesitas global dan tentunya menjadi
masalah di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, jumlah anak yang mengalami
obesitas terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2007, terdapat 12,2
persen dan pada 2010 menjadi 14,2 persen. Sebuah peningkatan yang cukup besar
jika dilihat dalam waktu selang 3 tahun.
Berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar tahun 2010, kegemukan menimpa 14 persen balita secara nasional.
Sebanyak 14,9 persen menimpa penduduk dengan pendapatan tinggi, dan 12,4 persen
pada penduduk yang kekurangan secara materi. Hal ini menunjukan bahwa anak yang
mengalami kegemukan tidak hanya berasal dari keluarga kaya, tapi juga dari
keluarga miskin. Jika kita telaah baik-baik, dalam kasus obesitas pada anak bukan hanya jumlah asupannya yang salah, tetapi
pola makannya yang salah. Pola makan yang salah, terutama disebabkan oleh asuhan
orang tua memang berperan penting dalam terjadinya obesitas.
Ada beberapa faktor
yang mendukung terjadinya obesitas pada anak. Salah satunya adalah masalah
genetik . Masalah genetik sering dijadikan alasan penyebab obesitas pada anak.
Anak yang datang dari keluarga yang rata-rata
anggota keluarganya gemuk kemungkinan besar secara genetik akan mengalami kegemukan. Bila kedua orang
tuanya gemuk, anaknya memiliki kemungkinan menjadi gemuk sekitar 80 persen.
Bila salah satu yang gemuk, risiko anak menjadi gemuk sebanyak 40 persen dan
hanya 7 persen bila kedua orang tuanya tidak gemuk.
Penyebab lainnya adalah faktor
psikologis. Sebagian anak ada yang makan terlalu banyak sebagai pelampiasan
saat menghadapi masalah emosi, seperti stress atau kebosanan. Anak –anak
seperti ini biasanya berasal dari keluarga yang memiliki kecendrungan serupa.
Sedangkan faktor lain
yang juga memegang peran penting dalam munculnya obesitas pada anak adalah faktor
sosial. Anak-anak terbiasa menonton tayangan televisi dengan iklan- iklan yang
menawarkan makanan
yang tidak sehat. Hal ini mendorong anak untuk mengkonsumsi. Iklan memang memberikan pengaruh besar pada memori anak,. Selain iklan, orang tua memiliki andil dalam pola konsumsi
makanan pada anak . Jika orang tua sejak awal telah menanamkan pola makan yang
tidak sehat maka jangan salahkan anak apabila anak juga memiliki pola makan
yang tidak sehat. Anak tidak bisa disalahkan bila selalu memilih makanan junkfood, gula-gula,dan gorengan jika
orang tuanya juga demikian.
Obesitas memiliki sejuta bahaya. Salah satunya
adalah peningkatkan
angka kejadian Diabetes Mellitus (DM) tipe 2, selain itu juga berisiko untuk
menjadi obesitas pada saat dewasa dan berpotensi mengakibatkan gangguan
metabolisme glukosa dan penyakit degeneratif seperti penyakit jantung,
penyumbatan pembuluh darah dan lain-lain. Sekumpulan penyakit yang bisa dicegah
sejak awal. Sangat
disayangkan bila para orang tua yang awalnya bertujaun membuat anak “terlihat” sehat tapi pada
kenyataan malah menjadikannya sarang penyakit yang sangat mengerikan di kemudain hari.
Sebuah penelitian yang dilakukan di Norwegia
mengungkapkan bahwa semakin gemuk seseorang maka akan semakin sedikit vitamin D
yang dapat diserap oleh tubuhnya. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa vitamin
D sangat penting bagi setiap orang karena dapat membantu penyerapan kalsium,
menyehatkan sel-sel tubuh serta menyeimbangkan sistem imunitas tubuh. Yang
lebih berbahaya, kekurangan vitamin D juga akan meningkatkan kerapuhan tulang
serta meningkatkan resiko jenis kanker tertentu.
Pada anak dengan obesitas dapat terjadi nafas yang
pendek, hal ini terjadi karena terdapat pembesaran
kelenjar toksil (amandel) dan adenoid yang mengakibatkan tertutupnya saluran
nafas atas, sehingga terjadi kekurangan oksigen dan saturasi oksigen yang
rendah yang disebut Sindrom Chubby Puffer.
Selain itu, diungkapkan Dr. Nugroho Setiawan,
Sp.And., obesitas pada anak mungkin saja mempengaruhi perkembangan fungsi
seksualnya, terutama pada penis dan kantong buah zakar pada anak laki-laki.
Anak yang memiliki masalah berat badan cenderung berisiko terhadap gangguan
produksi hormon untuk fungsi seksualnya, yaitu spermatozoa dan androgen.
Kegemukan pada anak dapat menghambat aktivitas anak . Bahkan, secara
tidak langsung kegemukan pun bisa menghambat perkembangan motorik anak.
Misalnya saja, seorang bayi usia 3-4 bulan harusnya sudah bisa tengkurap, tapi
karena kegemukan ia baru bisa tengkurap di usia 6-7 bulan. Karena hambatan
gerak pula, anak bisa menjadi bahan ejekan teman-temannya. Apalagi bila
kemudian ada julukan pada dirinya yang akan mempengaruhi konsep diri si anak.
Sebutan gendut, tembem, atau yang lainnya akan melekat dalam dirinya. Sehingga
ia akan merasa berbeda dengan yang lain. Bisa jadi juga ia akan dijauhi
teman-teman sebayanya pada saat aktivitas fisik berlangsung. Dan lambat laun
akan mempengaruhi sosialisasi dengan lingkungannya.
Memang pada dasarnya
anak membutuhkan energi untuk melakukan aktivitas fisik, pemeliharaan organ
tubuh, dan pertumbuhan sesuai menurut usia dan berat badan. Namun, perlu
diingat, energi yang dikonsumsi harus senantiasa berada di dalam keadaan yang
seimbang dengan yang digunakan. Malnutrisi yang dikenal masyarakat selama ini
memang hanya kurang gizi, sedangkan obesitas masih belum dianggap sebagai
sesuatu yang berbahaya.
Dengan demikian, jika
terjadi obesitas pada anak orang tua perlu memperhatikan tiga hal; mengurangi
masukan kalori, menambah atau meningkatkan pengeluaran energi, dan memodifikasi
atau menerapkan perilaku dan pola makan anak dan keluarga. Bila ketiganya
diterapkan dengan baik akan dicapai hasil penurunan berat badan yang maksimal
tapi tidak berbahaya.
Fakta
telah membuktikan bahwa kegemukanpada anak memiliki sejuta ancaman
baik dari sisi kesehatan dan sosial, dan fakta juga membuktikan anak sehat
tidak identik dengan gemuk, dan anak gemuk tidak identik dengan sehat. Jadi
tunggu apalagi, lets changes our mindset!!
Memiliki anak sehat lebih penting bukan?